Posted by: wahyukdephut | January 31, 2009

PROSPEK PENGEMBANGAN RINTIS WARTONO KADRI

PROSPEK PENGEMBANGAN RINTIS WARTONO KADRI

MENJADI UNIT PENDIDIKAN KONSERVASI ALAM

DAN INTERPRETASI LINGKUNGAN (UPKA-ILS)

 

Oleh :

 

Wawan Gunawan

Wahyu Catur Adinugorho

Noorhidayah

 

 

PENDAHULUAN

 

Loka Penelitian dan Pengembangan Satwa Primata (LP2SP) Samboja yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6175/Kpts-II/2002 Tanggal 10 Juni 2002 memiliki kawasan seluas 3.504 ha.  Sebagian besar kawasan LP2SP yang merupakan kawasan hutan, saat ini (akhir tahun 2003) mengalami tekanan yang cukup tinggi, seperti terjadinya perambahan lahan oleh masyarakat untuk dijadikan areal perladangan, penebangan liar (illegal logging), dan kebakaran hutan.  Kondisi demikian menyebabkan kawasan hutan LP2SP yang berupa hutan alam yang masih utuh dan bebas dari gangguan sudah sangat sedikit.  Adapun kawasan hutan alam yang masih utuh dan bebas dari gangguan yang terdapat di kawasan LP2SP adalah lokasi Tapak Wartono Kadri yang memiliki daerah berhutan seluas 26,48 ha yang terletak sekitar 4,5 km dari kantor LP2SP ke arah Desa Semoi.

Keberadaan Tapak Wartono Kadri ini sangat penting artinya bagi LP2SP, karena hutan yang terdapat di lokasi tersebut merupakan miniatur dari hutan hujan tropis Kalimantan yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.    Berdasarkan berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan, di hutan penelitian ini terdapat 296 jenis vegetasi, terutama vegetasi yang merupakan khas Pulau Kalimantan, seperti Eusideroxylon zwageri, Shorea laevis, Barossodendron borneense, dan beberapa jenis tumbuhan dari famili dipterocarpaceae.  Sedangkan jenis satwaliar yang dapat dijumpai di hutan penelitian ini adalah berbagai jenis burung, babi (Sus barbatus), kancil (Muntiacus muntjak), rusa (Cervus unicolor), berbagai jenis ular, beragam jenis kupu-kupu dan satwaliar lainnya.  Disamping itu, arti penting lainnya dari keberadaan Tapak Wartono Kadri ini adalah bahwa di lokasi ini telah banyak dilakukan berbagai penelitian yang hasilnya dapat bermanfaat bagi peningkatan ilmu pengetahuan, terutama di bidang kehutanan.

Keberadaan Tapak Wartono Kadri yang cukup penting bukan hanya bagi LP2SP, tetapi juga berbagai pihak ini perlu dikembangkan lebih lanjut agar manfaatnya dapat lebih berarti.  Kegiatan pengembangan ini dilakukan tidak terlepas dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya di lokasi tersebut.  Adapun bentuk pengembangan yang mempunyai prospek untuk dilakukan adalah menjadikan Tapak Wartono Kadri sebagai Unit Pendidikan Konservasi Alam dan Interpretasi Lingkungan Samboja (UPKA-ILS).

 

KONDISI UMUM TAPAK WARTONO KADRI

1.      Letak, Luas, dan Aksesibilitas

Tapak Wartono Kadri secara geografis terletak pada 4,2° LU – 2,5° LS dan 114° – 119° BB.  Secara administratif pemerintahan, kawasan ini terletak di wilayah Kelurahan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.  Adapun secara administratif pengelolaan merupakan wilayah hutan penelitian milik Loka Penelitian dan Pengembangan Satwa Primata (LP2SP), Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan.

Luas keseluruhan Tapak Wartono Kadri yang masih alami dan terbebas dari gangguan adalah seluas 26,48 Ha.  Untuk mencapai Tapak Wartono Kadri ini cukup mudah karena kondisi aksesibilitas yang sudah baik.  Lokasi Tapak Wartono Kadri terletak di pinggir jalan menuju Desa Semoi dengan kondisi jalan sudah beraspal.  Jarak Tapak Wartono Kadri dari LP2SP adalah 4,5 Km dan dapat ditempuh selama 10 menit dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua.

                             

2.      Kondisi Sarana dan Prasarana yang Ada Saat Ini

Hingga saat ini Tapak Wartono Kadri telah dilengkapi oleh beberapa sarana dan prasarana.  Namun, sangat disayangkan sarana dan prasarana tersebut sudah tidak berfungsi dengan baik lagi karena sudah mengalami beberapa kerusakan, sehingga perlu adanya kegiatan perbaikan.  Sarana dan prasarana yang telah ada saat ini di Tapak Wartono Kadri adalah sebagai berikut:

a.    Alat pengukur curah hujan dan angin

Alat pengukur curah hujan dan angin ini terletak di depan jalur masuk Tapak Wartono Kadri.  Saat ini kondisi kedua alat tersebut kurang terawat dan memerlukan perbaikan/penambahan alat, seperti alat untuk menakar/ menampung curah hujan, alat pencatat untuk mengukur angin, dan pemeliharaan pagar untuk pengamanan kedua peralatan tersebut.

b.    Track/jalur

Track/jalur yang ada di Tapak Wartono Kadri saat ini panjangnya ± 1 km.  Kondisi track/jalur saat ini kurang terpelihara dengan baik.  Di sepanjang track/jalur tersebut banyak serasah dan ranting yang menutupi track/jalur.  Papan penahan yang terdapat pada track/jalur yang memiliki kelerengan curam sudah banyak mengalami kerusakan dan memerlukan perbaikan.

c.    Jembatan papan

Di Tapak Wartono Kadri terdapat jembatan papan yang merupakan bagian dari track/jalur yang melewati daerah rawa.  Kondisi jembatan papan ini sudah sangat memprihatinkan karena banyak papan jembatan yang lepas dan tonggak penahan jembatan sudah rusak, sehingga jembatan papan ini posisinya miring dan perlu perbaikan segera.

d.    Label pohon

Label pohon yang terdapat di sepanjang track/jalur kondisinya sudah kurang baik, sehingga saat ini sebagian label pohon tersebut memerlukan pemeliharaan ataupun perbaikan.  Beberapa label pohon ada yang terpasang tidak kokoh, tulisan pada label pohon kurang jelas karena kotor, dan vegetasi di sepanjang track/jalur belum semuanya terpasang label, terutama jenis-jenis vegetasi yang tergolong vegetasi tidak berkayu.

e.    Shelter

Di Tapak Wartono Kadri ini terdapat sebuah shelter berupa bangku kayu yang saat ini kondisinya tidak terpelihara. Bangku kayu tersebut berupa papan berbentuk memanjang tanpa atap.  Tapak Wartono Kadri pernah dikunjungi oleh Ratu Beatrich dari Belanda ke LP2SP (dahulu masih bernama Wanariset I Samboja).

f.      Sumur bor

Sumur bor yang terdapat di Tapak Wartono Kadri pada awalnya digunakan sebagai sumber air untuk pencegahan kebakaran hutan di areal Tapak Wartono Kadri.  Saat ini sumur bor tersebut tidak diaktifkan karena tidak terdapat sarana dan prasarana pengairan yang lainnya, seperti mesin alcon/genset dan tempat penampungan air.

g.    Sekat bakar

Pada tahun 1998 pernah dibuat sekat bakar mengelilingi Tapak Wartono Kadri dengan lebar sekat bakar 10 m.  Maksud pembuatan sekat bakar tersebut adalah untuk mencegah agar Tapak Wartono Kadri terhindar dari  kebakaran hutan.  Namun setelah 2 tahun dari pembuatannya, sekat bakar tersebut tidak pernah lagi dipelihara, sehingga kondisi sekat bakar tersebut kini sudah tertutupi oleh semak dan pohon-pohon kecil (tingkat semai, pancang, dan tiang).

 


3.      Kondisi Fisik

3.1.  Topografi

Kawasan Tapak Wartono Kadri terletak pada ketinggian 10 – 85 m dpl. Topografinya bergelombang dengan kemiringan antara 10 – 40 derajat, dan di beberapa tempat mencapai 60 derajat.

3.2.  Iklim dan Curah Hujan

Kawasan Tapak Wartono Kadri tergolong ke dalam tipe iklim A menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson.  Curah hujan rata-rata/tahun di kawasan ini adalah antara 2000 – 2500 mm/tahun.

3.3.  Tanah dan Geologi

Secara geologi daerah Kalimantan Timur sebagian besar terdiri dari sedimen tersier.  Sebagian besar tanahnya terdiri dari jenis tanah ultisol atau kompleks ultisol dan oxisol.  Kondisi tanah di kawasan Tapak Wartono Kadri pada umumnya miskin hara dan diklasifikasikan sebagai ultisol.

4.      Kondisi Biotik

4.1.  Vegetasi

Vegetasi yang terdapat di Tapak Wartono Kadri meliputi 7 family dominan, yaitu: Dipterocarpaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, Myrtaceae, Sapotaceae, Burseraceae dan Palmae. Dengan persentase masing-masing family sebagai berikut: Dipterocarpaceae 15,6%, Euphorbiaceae 9,2%, Lauraceae 6,9%, Myrtaceae 6,5%, Sapotaceae 4,4%, Burseraceae 3% dan Palmae yang terbanyak yaitu 18,5%.  Selain itu juga terdapat berbagai jenis vegetasi dari famili Annonaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Rubiaceae dan Leguminosae.  Adapun jenis-jenis vegetasi yang dapat dijumpai di Tapak Wartono Kadri adalah Eusideroxylon zwageri, Shorea laevis, Barossodendron borneense, Pholidocarpus sp, Syzygium tawahense, Drypetes kikir, Chaetocarpus castanocarpus, dan lain sebagainya. (Yassir et. al., 2003)

4.2.  Satwaliar

Satwaliar yang terdapat di kawasan Tapak Wartono Kadri terdiri dari berbagai jenis burung, babi (Sus barbatus), rusa (Cervus unicolor), kancil (Muntiacus munctjak), ular, kadal dan lain sebagainya.  Lebih dari 150 spesies burung telah diinventarisasi di kawasan ini, sedangkan populasi kupu-kupu yang ditemukan juga sangat beragam jenisnya.  Dari beberapa satwaliar tersebut terdapat beberapa jenis satwaliar yang tergolong dilindungi, yaitu rusa dan beberapa jenis burung.

4.3.  Ekosistem

Tapak Wartono Kadri memiliki ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah.

 

PERANAN PENGEMBANGAN TAPAK WARTONO KADRI

MENJADI UPKA-ILS

Pengembangan Tapak Wartono Kadri sebagai  UPKA-ILS memiliki peranan yang sangat strategis untuk menyebarluaskan dan memberikan pengertian tentang pentingnya konservasi alam dan lingkungan yang ada, terutama hutan, kepada seluruh lapisan masyarakat, baik dari kalangan pemerintahan, tamu mancanegara dan domestik, pelajar dan mahasiswa, serta masyarakat umum lainnya.  UNESCO merumuskan bahwa pendidikan lingkungan merupakan suatu proses pemahaman nilai-nilai dan penjelasan konsep-konsep dalam rangka pengembangan keterampilan dan sikap yang penting untuk memahami keterkaitan antar manusia, kebudayaan, dan lingkungan biofisik di sekitarnya. Tujuan pendidikan konservasi alam menurut Konferensi Tbilisi adalah timbulnya pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill), kesadaran (awareness), sikap (attitude), dan peran serta (participation) dalam upaya pelestarian lingkungan (Hermawan, 2000).  Sejalan dengan itu, Berkmuller (1984), menyatakan bahwa pendidikan lingkungan bertujuan pada pembentukkan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan masyarakat yang mampu untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan menyarankan tindakan yang membawa lebih dekat pada pemecahan masalah.  Melalui pendidikan lingkungan orang belajar tidak hanya untuk bereaksi pada tekanan yang tumbuh terhadap lingkungan, tetapi juga untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya masalah.  Berkenaan dengan interpretasi lingkungan, Domroese et al. (1999), menyatakan bahwa program-program interpretasi mentranslasikan informasi dari bahasa ilmiah ke dalam bahasa sehari-hari, sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat yang bukan ilmuwan.  Gaya interpretasi bersifat interaktif dan santai dengan fokus  memberikan pengertian makna dari suatu obyek. 

Penyelenggaraan kegiatan pendidikan konservasi alam dan interpretasi lingkungan ini sangat urgent untuk segera dilaksanakan, mengingat laju kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan, terutama hutan, yang semakin tinggi dan terjadi secara meluas di Indonesia.  Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memberikan penyadaran sejak dini kepada semua lapisan masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan yang ada di sekitarnya.  Dengan adanya pengembangan Tapak Wartono Kadri sebagai UPKA-ILS diharapkan dapat turut membantu menciptakan masyarakat yang sadar dan peduli akan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan di sekitarnya.

 

BENTUK PENGEMBANGAN TAPAK WARTONO KADRI

MENJADI UPKA-ILS

UPKA-ILS yang berlokasi di Tapak Wartono Kadri dirancang dan dikembangkan sealami mungkin sesuai dengan kondisi setempat dan seminimal mungkin atau tidak merubah landscape kawasan.  Pembangunan sarana dan prasarana interpretasi serta fasilitas penunjang dilakukan selaras dengan kondisi alam dan budaya setempat.  Kegiatan yang pertama kali dilakukan untuk mempersiapkan kondisi fisik UPKA-ILS adalah dengan memperbaiki dan memelihara sarana dan prasarana yang telah ada di Tapak Wartono Kadri, seperti kegiatan pemeliharaan batas berupa sekat bakar, perbaikan track/jalur yang sudah ada, dan perbaikan label pohon yang ada sepanjang track/jalur.  Kegiatan selanjutnya yang dilakukan adalah kegiatan untuk melengkapi sarana dan prasarana yang telah ada, seperti kegiatan pembuatan patok/pal interpretasi sepanjang track/jalur, pembuatan papan-papan interpretasi, pembuatan shelter, pembangunan tempat-tempat interpretasi, dan pembangunan fasilitas penunjang.  Kegiatan selanjutnya yang dilakukan untuk mempersiapkan kondisi fisik UPKA-ILS adalah monitoring potensi sumberdaya alam yang terdapat di Tapak Wartono Kadri.  Berdasarkan kegiatan monitoring tersebut kemudian dapat dikembangkan track/jalur baru sebagai alternatif dari track/jalur yang telah ada untuk lebih memperkaya materi pendidikan konservasi alam dan interpretasi lingkungan.

Selain penyiapan kondisi fisik UPKA-ILS, juga perlu disiapkan paket-paket pendidikan konservasi alam dan program interpretasi lingkungan sesuai dengan kelompok umur dan tingkat pendidikan pengunjung. Paket-paket pendidikan konservasi alam dan program interpretasi lingkungan ini dibuat berdasarkan potensi SDA yang terdapat di kawasan UPKA-ILS dan obyek-obyek yang memiliki karakteristik khusus, seperti keindahan, keunikan, kelangkaan, dan kegunaan.  Penyusunan paket-paket pendidikan konservasi alam dan program interpretasi lingkungan dilakukan melalui suatu kegiatan penelitian/kajian ilmiah.  Untuk melengkapi paket-paket dan program tersebut juga disusun buku panduan, leaflet, dan brosur mengenai pendidikan konservasi alam dan interpretasi lingkungan.

Tersedianya interpreter yang profesional mutlak diperlukan untuk menginterpretasikan obyek-obyek yang terdapat di dalam kawasan UPKA-ILS. Keberadaan interpreter tersebut diharapkan dapat menyatukan pengunjung dengan alam sekitarnya sebagai satu kesatuan.  Keberadaan interpreter yang profesional ini akan menambah makna dan arti dari obyek-obyek yang diamati.  Untuk menyiapkan interpreter yang profesional dilakukan melalui pengiriman interpreter yang telah dipilih untuk mengikuti pelatihan-pelatihan tentang pendidikan konservasi alam dan interpretasi lingkungan dan studi banding ke lokasi-lokasi yang telah menerapkan program pendidikan konservasi alam dan interpretasi lingkungan.  Jumlah interpreter yang diperlukan di UPKA-ILS direncanakan berjumlah 6 orang.

Setelah kondisi fisik UPKA-ILS siap, paket-paket pendidikan konservasi alam dan program interpretasi lingkungan, serta interpreter tersedia, maka dilakukan ujicoba terhadap UPKA-ILS tersebut.  Ujicoba awal akan dilakukan kepada pelajar SD, SMP, dan SMA.  Hasil ujicoba tersebut kemudian dievaluasi untuk mengetahui efektifitas UPKA-ILS.  Setelah semua disiapkan, maka UPKA-ILS siap dioperasionalkan.

 

OUTCAME PENGEMBANGAN TAPAK WARTONO KADRI

MENJADI UPKA-ILS

Apabila UPKA-ILS ini telah terwujud dan beroperasi, maka dapat dijadikan sebagai media yang cukup efektif untuk menanamkan kepedulian dan apresiasi masyarakat luas terhadap konservasi sumberdaya alam dan lingkungan, sehingga diharapkan kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan, terutama hutan beserta keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya, dapat diminimalisir melalui upaya pendidikan konservasi alam dan interpretasi lingkungan.  Selain itu, dengan adanya pengembangan UPKA-ILS ini dapat pula digabungkan dengan paket-paket ekoturisme yang ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar LP2SP, sehingga dapat menunjang kegiatan penelitian dan pengembangan yang swadana.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: