Posted by: wahyukdephut | January 31, 2009

PEMANFAATAN JASA HUTAN SEBAGAI PENYERAP KARBON SEBAGAI ALTERNATIF PENDANAAN DI SEKTOR KEHUTANAN MENUJU HUTAN LESTARI

1970-1990an merupakan era dimana sektor Kehutanan menjadi salah satu pemasok utama devisa Indonesia, tetapi sangat disayangkan paradigma yang berkembang pada saat itu adalah Hutan identik dengan Kayu. Disaat hutan alam tak ada lagi yang dapat dieksploitasi karena kayunya telah habis dieksploitasi secara berlebihan, baik secara legal maupun ilegal dan hutan tanaman yang diharapkan mampu mendukung ketersedian bahan baku kayu belum menunjukkan hasil yang menggembirakan, akankah era kekemilauan sektor kehutanan sebagai sumber devisa andalan Indonesia telah berakhir? Kini Indonesia harus mampu melihat hutan tropisnya dengan paradigma yang berbeda, hutan tidak lagi identik dengan kayu, apalagi hutan tropis yang sifatnya ringkih. Hutan dapat memberikan jasa dalam bentuk yang lain seperti fungsi hidrologi, fungsi ekologi, fungsi sosial dan budaya serta saat ini diketahui bahwa hutan berperan besar dalam upaya melindungi atmosfer bumi. Manfaat intangible hutan ini kadang sering diabaikan karena dianggap tidak dapat memberikan nilai ekonomis yang dapat dirupiahkan.

 

Adanya inisiatif global seperti Kyoto Protocol, kini kita ditantang untuk melihat hutan dengan sudut pandang lain lagi. Para rimbawan, masyarakat dan praktisi lainnya yang berkaitan dengan keberadaan hutan perlu untuk mempraktekkan pengetahuan dan keahliannya pada spektrum yang lebih luas lagi, lingkungan global. Hutan bukan sekedar tumpukan kayu yang dapat mendatangkan devisa sesaat yang sering juga menimbulkan bencana jika dimanfaatkan tanpa kendali tetapi merupakan komoditi global yang memiliki potensi selain kayu. Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) termasuk jasa yang dihasilkan harus dikembangkan dalam pemanfaatannya untuk mengembalikan era kekemilauan sektor kehutanan dalam mendukung devisa negara.

 

Berkaitan dengan kemampuan hutan dalam menyerap karbon, perdagangan emisi atau perdagangan karbon merupakan sebuah paradigma baru dalam sektor kehutanan dan dapat menjadi peluang bagi  Indonesia yang notabene merupakan negara berkembang untuk mendapatkan devisa melalui sektor ini.  Melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism, CDM) inilah negara berkembang seperti Indonesia dapat berpartisipasi dalam rangka perdagangan karbon. Perdagangan karbon adalah paradigma baru dimana kita diharuskan menanam dan memelihara hutan tanpa memanen kayunya sampai kurun waktu tertentu dan sebagai imbalannya kita mendapatkan pendanaan. Oleh karena itu kita perlu banyak persiapan, kesiapan ini juga menyangkut teknik, penilaian informasi kandungan karbon yang dimiliki, sosial budaya dan kelembagaan. Hal yang terpenting adalah adanya kepastian lahan, penggunaan lahan, adanya jaminan keamanan hutan dari kebakaran, illegal logging dan sebab lain yang berdampak hilangnya suatu tegakan serta dituntut adanya komitmen sehingga jangan sampai paradigma ini menjadi bumerang dimana kita mendapat sangsi akibat sebelum berakhirnya kesepakatan telah terjadi perubahan penggunaan lahan ataupun penebangan. Perdagangan karbon ini hendaknya melibatkan dan memberikan manfaat pada masyarakat dan jangan sampai terulang kembali fenomena dimana masyarakat sekitar hutan hanya menjadi penonton dan menerima bencana disaat hutan dieksploitasi secara besar-besaran.

 


JASA HUTAN SEBAGAI PENYERAP KARBON

 

Peranan Hutan sebagai penyerap karbon mulai menjadi sorotan pada saat bumi dihadapkan pada persoalan efek rumah kaca, berupa kecenderungan peningkatan suhu udara atau biasa disebut sebagai pemanasan global. Penyebab terjadinya pemanasan global ini adalah adanya peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer dimana peningkatan ini menyebabkan kesetimbangan radiasi berubah dan suhu bumi menjadi lebih panas.

Gas Rumah Kaca adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang yang dipancarkan kembali ke atmosfer oleh permukaan bumi. Sifat termal radiasi inilah menyebabkan pemanasan atmosfer secara global (global warming). Di antara GRK penting yang diperhitungkan dalam pemanasan global adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O). Dengan kontribusinya yang lebih dari 55% terhadap pemanasan global, CO2 yang diemisikan dari aktivitas manusia (anthropogenic) mendapat perhatian yang lebih besar. Tanpa adanya GRK, atmosfer bumi akan memiliki suhu 30oC lebih dingin dari kondisi saat ini. Namun demikian seperti diuraikan diatas, peningkatan konsentrasi GRK

saat ini berada pada laju yang mengkhawatirkan sehingga emisi GRK harus segera dikendalikan. Upaya mengatasi (mitigasi) pemanasan global dapat dilakukan dengan cara mengurangi emisi dari sumbernya atau meningkatkan kemampuan penyerapan.

 

Hutan berperan dalam upaya peningkatan penyerapan CO2 dimana dengan bantuan cahaya matahari dan air dari tanah, vegetasi yang berklorofil mampu menyerap CO2 dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis ini antara lain disimpan dalam bentuk biomassa yang menjadikan vegetasi tumbuh menjadi makin besar atau makin tinggi. Pertumbuhan ini akan berlangsung terus sampai vegetasi tersebut secara fisiologis berhenti tumbuh atau dipanen. Secara umum hutan dengan ”net growth” (terutama dari pohon-pohon yang sedang berada fase pertumbuhan) mampu menyerap lebih banyak CO2, sedangkan hutan dewasa dengan pertumbuhan yang kecil hanya menyimpan stock karbon tetapi tidak dapat menyerap CO2 berlebih/ekstra (Kyrklund, 1990). Dengan adanya hutan yang lestari maka jumlah karbon (C) yang disimpan akan semakin banyak dan semakin lama. Oleh karena itu, kegiatan penanaman vegetasi pada lahan yang kosong atau merehabilitasi hutan yang rusak akan membantu menyerap kelebihan CO2 di atmosfer.

 

PARADIGMA PERDAGANGAN KARBON

 

Negara-negara industri yang sudah lebih lama dan banyak mengemisikan GRK mempunyai tanggungjawab menurunkan emisi GRK. Kewajiban ini disepakati dalam Konvensi Perubahan Iklim, yaitu sebuah perjanjian internasional yang bertujuan untuk menstabilkan emisi GRK ke atmosfer sehingga tidak membahayakan sistem iklim bumi. Untuk mengimplementasikan konvensi ini, masyarakat internasional telah menyepakati sebuah target, tentang besar dan jadwal penurunan emisi yang tertuang dalam Protokol Kyoto. Protokol ini juga mengatur tatacara penurunan emisi termasuk kegiatan yang dilakukan di negara lain yang dikenal dengan nama Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism, CDM). Melalui mekanisme CDM inilah negara berkembang seperti Indonesia dapat menjual karbon yang mampu diserap dan disimpan oleh hutan yang dimiliki ke negara maju (sink program). Indonesia sangat berpotensi menjadi negara penyerap emisi karbon karena Indonesia mempunyai hutan tropis yang luas bahkan potensi tersebut dapat lebih ditingkatkan dengan upaya penanaman dan rehabilitasi hutan yang telah rusak yang tersebar luas. Dalam sektor kehutanan, kegiatan yang tergolong dalam CDM adalah aforestasi dan reforestasi. Aforestasi merupakan kegiatan penanaman hutan kembali pada lahan yang sudah tidak berhutan 50 tahun yang lalu sedang reforestasi adalah penanaman hutan kembali pada lahan yang tidak berupa hutan sebelum tahun 1990. Meskipun kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan tidak dapat dikategorikan sebagai kegiatan mitigasi yang absah dibawah prosedur CDM. Namun kegiatan tersebut dapat dikategorikan sebagai kegiatan adaptasi terhadap perubahan iklim dengan mekanisme yang tidak diatur oleh CDM, tetapi oleh Konvensi Perubahan Iklim yang memungkinkan juga mendapatkan pembiayaan. Selain CDM beberapa alternatif potensi pasar karbon lain juga tersedia, yaitu melalui pasar non kyoto dengan persyaratan dan kriteria lain, seperti pasar Amerika (sink carbon), bio-carbon fund, bilateral, multilateral dan unilateral donor.


 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: