Posted by: wahyukdephut | January 31, 2009

MENYELAMATKAN RAMIN DENGAN MELAKUKAN PENUNJUKAN KAWASAN KONSERVASI HUTAN RAMIN ( Gonystilus bancanus (Miq) Kurz.)

MENYELAMATKAN RAMIN DENGAN MELAKUKAN PENUNJUKAN

 KAWASAN KONSERVASI HUTAN RAMIN ( Gonystilus bancanus (Miq) Kurz.)

 

Oleh :

Wahyu Catur Adinugroho, S.Hut[1]

 

 

RAMIN ( Gonystilus bancanus (Miq) Kurz.)

 

Hutan rawa merupakan salah satu  sumber keanekaragaman hayati di Indonesia. Diperkirakan terdapat sekitar 4.000 jenis pohon yang berpotensi sebagai penghasil kayu gergajian dan pertukangan baik di hutan rawa maupun hutan lainnya. Dari jumlah tersebut baru sekitar 400 jenis diantaranya yang sudah dikenal secara ekonomi, termasuk sekitar 260 jenis yang sudah dikategorikan sebagai penghasil kayu-kayu perdagangan (Soerianegara & Lemmens, 1993). Akan tetapi banyak jenis pohon yang dahulu kondisinya melimpah dan bernilai ekonomis saat ini sulit untuk ditemukan, termasuk didalamnya adalah Gonystilus bancanus (Miq) Kurz.

 

Gonystilus bancanus (Miq) Kurz. merupakan salah satu jenis pohon penghasil kayu ramin yang paling diminati untuk diperdagangkan dari 10 jenis yang ada di Indonesia. Jenis ini termasuk famili Thymelaeaceae. Di Kalimantan disebut sebagai Gaharu buaya, Medang Keladi , Gaharu, Gerima, Merang, Menyan, Sriangun, Jungkang Adung sedangkan di Sumatera disebut sebagai Gaharu Buaya, Lapis Kulit , Manemeng, Geronggong, Panggatutup, Pinang Baek, Pulai Miyang, Setalam, Balun, Bacang Kulit, Garu Anteru, Kayu Bulu.

 

Kayu Ramin disebut “an attractive,high class utility hardwood” dengan tekstur yang halus dan rata serta berserat halus sehingga merupakan bahan yang bernilai tinggi untuk kontruksi ringan dan

penggunaan lainnya, seperti furniture dan hiasan interior. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan eksploitasi kayu ramin di alam tanpa diikuti upaya budidaya maupun upaya menjamin kelestariaannya hingga berdampak terhadap terancamnya kepunahan jenis ini sehingga masuk dalam daftar merah IUCN dan menurut CITES pada tahun 2001 tergolong dalam appendix III dan meningkat menjadi appendix II pada tahun 2004.

 

“…jenis kayu Ramin kini hanya dapat dijumpai di beberapa kawasan hutan rawa Pulau Sumatera, kepulauan di Selat Karimata, dan Pulau Kalimantan dan sulit untuk menemukan tegakan yang berdiameter besar…”

 

KAWASAN KONSERVASI HUTAN RAMIN ( Gonystilus bancanus (Miq) Kurz.)

 

Kawasan konservasi hutan ramin secara administrasi terletak di Desa Lahei, Kecamatan Mentangai, Kabupaten Kuala Kapuas, Propinsi Kalimantan Tengah dan secara geografis terletak pada 01o37’35,16” Lintang Selatan dan 114o05’11,15” Bujur Timur. Untuk menuju lokasi tersebut dapat dicapai melalui jalur darat Jl. Palangka Raya – Buntok tepatnya di Km 41, yang dapat ditempuh selama ± 1,5 jam dari Palangka Raya kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki ± 4 Km.

 

Mungkin sebagian besar orang baru mendengar keberadaan Kawasan Konservasi Hutan Ramin ( Gonystilus bancanus (Miq) Kurz.) di Indonesia karena menurut UU No. 5 tahun 1990 yang dimaksud kawasan konservasi adalah Taman Nasional, Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Hutan Rakyat dan Taman Wisata Alam. Terlepas keberadaan Kawasan Konservasi Hutan Ramin ( Gonystilus bancanus (Miq) Kurz.) sesuai atau tidak dengan UU No.5 Tahun 1990, keberadaan kawasan ini di wilayah Desa Lahei Kecamatan Mentangai Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan pohon ramin ( Gonystilus bancanus (Miq) Kurz.) dari kepunahan.

 

Penunjukkan Kawasan Konservasi Hutan Ramin di wilayah Desa Lahei Kecamatan Mentangai seluas 200 Ha didasarkan pada Surat Keputusan Bupati Kapuas Nomor : 705 Tahun 2003. Penunjukkan kawasan ini diawali dari pengajuan proposal kebun Ramin atas nama Sdr. M. Dimbe Tanggal 6 Juni 2002 yang kemudian ditindaklanjuti dengan orientasi tata batas dan inventarisasi tegakan ramin. Kawasan ini terletak di kawasan hutan milik Negara cq. Pemerintah Kabupaten Kapuas bekas HPH PT. Gempita Kalimantan Tengah.

 

 Berdasarkan data proposal Kebun Ramin di lokasi tersebut, dalam jalur pengamatan sepanjang 6 km yang dibuat mengelilingi batas kawasan dengan lebar jalur 25 m dan luas plot contoh 15 Ha ditemukan 374 pohon dengan diameter ≥ 30 cm sehingga kerapatan pohon ramin pada lokasi tersebut adalah 24,93 indiv/ha. Secara detail data hasil pengukuran pohon ramin tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

 

 

Tabel 1. Jumlah pohon ramin di Kawasan Konservasi Hutan Ramin Desa Lahei pada tiap Kelas Diameter dan Jalur.

 

Jalur

Kelas Diameter (cm)

Jumlah

30-<35

35-<40

40-<45

45-<50

50-<55

>55

Jalur I (2000 m)

32

38

24

18

11

3

126

Jalur II (1000 m)

10

24

6

2

1

43

Jalur III (2000 m)

28

36

33

29

5

11

142

Jalur IV (1000 m)

19

16

16

8

4

63

Jumlah

89

114

79

57

21

14

374

Keterangan : Luas Plot Contoh 15 Ha

 

Melihat kondisi hutan dan tegakan ramin yang ada dimana penulis berkesempatan melaksanakan survey pada areal tersebut dalam rangka kegiatan ITTO, kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sumber benih dalam rangka menyediakan benih ramin guna budidaya maupun kegiatan pelestarian.  Kawasan ini juga telah mendapat sertifikasi sebagai sumber benih tanaman hutan ramin dengan klasifikasi Tegakan Benih Teridentifikasi dari BPTH Kalimantan Selatan Nomor : 021/V-BPTH.KAL-2/STFK/2004 dimana wewenang pengelolaanya oleh Dinas Kehutanan Kab. Kapuas. Meskipun telah mendapatkan sertifikasi tetapi pengelolaannya belum optimal, kegiatan untuk memproduksi benihpun belum ada. Kondisi ini sangat disayangkan, mengingat kawasan tersebut kemungkinan merupakan tegakan ramin yang tersisa dengan kondisi tegakan masih baik. Apabila tidak ada upaya tindak lanjut maka penulis perkirakan tegakan yang tersisa inipun akan ditebang oleh pihak yang tidak bertanggungjawab karena tidak memberikan manfaat ekonomis secara langsung dan punahlah ramin karena tidak tersedianya permudaan alam untuk melakukan regenerasi dan sumber benih untuk pengembangan in-situ maupun ek-situ. Sebuah kondisi yang sangat tidak kita harapkan terjadi, beberapa contoh kasus sudah ada, Sebuah kawasan konservasi yang ditetapkan pada tahun 1987 hasil perjuangan dari Bapak Djalal Abidin sejak tahun 70-an dengan nama ‘Hutan Lindung Ramin’ berada di desa Kempas Jaya, Kecamatan Tempuiling Kabupaten Indragiri Hilir, dengan memiliki luas sekitar 1.600 hektar. Kini Kondisi hutan lindung tersebut sangat memprihatinkan dan bisa dikatakan telah ‘hilang’ (Sumber : Wawancara Tim Studi FWI, 2002).

 

PENUTUP

 

Kawasan konservasi hutan ramin di Desa Lahei Kec. Mentangai Kab. Kapuas merupakan tegakan ramin yang tersisa dengan kondisi tegakan yang baik sehingga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sumber benih ramin dalam rangka pengembangan in-situ maupun ek-situ guna melestarikan ramin. Upaya ini harus didukung dengan teknologi dari hasil kegiatan-kegiatan penelitian yang dilakukan mengingat sifat spesifik jenis ini, seperti musim berbunga dan berbuah yang tidak tetap dan tidak berbuah sepanjang tahun, akan berbuah pada diameter diatas 35 cm, rendahnya persentase hidup kegiatan penanaman, pertumbuhan anakan ramin yang lambat, viabilitas benih dan penurunan daya kecambah sampai 50% jika benih disimpan 2-3 minggu.

 

Upaya penyelamatan tegakan ramin yang tersisa harus segera dilakukan, sebelum terlambat dan terjadi kepunahan ramin, hal ini perlu diikuti dengan pengelolaan yang intensif dan mengembangkannya menjadi tegakan-tegakan sumber benih.

 

Penunjukan kawasan konservasi hutan ramin di Desa Lahei Kec. Mentangai Kab. Kapuas layak dijadikan contoh sebagai upaya penyelamatan ramin tetapi perlu diikuti pengelolaan yang optimal sehingga tidak terjadi lagi kasus seperti hilangnya Hutan Lindung Ramin di Desa Kempas Jaya, Kec. Tempuiling, Kab. Indragiri Hilir.

 

Referensi :

 

Sidiyasa, K., B. Yavid, W.C. Adinugroho, Rusmana. 2007. Seed Source of Ramin in West and Central Kalimantan. Technical Report No. 01 of Activity 1.1.1 ITTO Project PD 426/06 Rev.1. Bogor

 

Soerianegara, I. & R.H.M.J. Lemmens (eds.). 1993. Plant Resources of South-East Asia, Vol. 5 (1): 211–215. Pudoc Scientific Publication, Wageningen

 

Soerianegara, I. et al. 1994. Gonystylus Teijsm. & Binnend. In “Plant Resources of South-East Asia No. 5

(1). Timber Trees: Major Commercial Timbers” (I.Soerianegara and R.H.M.J. Lemmens (eds.) pp. 221-230. Prosea, Bogor.


[1] Peneliti Muda pada Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja

  Jl. Soekarno-Hatta Km 38 Samboja, Kaltim

  e-mail : wahyuk@dephut.go.id

 

 


Responses

  1. Hello admin yth.,

    blog kamu bagus. Kalau mau lihat gambar Hutan Rawa dari Pulau Jawa (Barat dan banten), click disini:
    http://www.panoramio.com/user/1533453/tags/hutan%20rawa

    banyak buku botani disini:
    http://kask.us/3318841

    Salam dari Bogor

    Didik

    • terima kasih…
      terima kasih juga share infonya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: