Posted by: wahyukdephut | January 31, 2009

EKOSISTEM RUSAK VS KEHIDUPAN MANUSIA

Ilmu ekologi pada dasarnya menjelaskan hubungan antara organisme -tumbuhan maupun hewan- dengan lingkungannya. Sifat setiap benda hidup dimengerti dari segi hubungannya. Bukan hanya dengan alam secara fisik -termasuk tanah, air dan iklim- tetapi juga dengan benda hidup lain dalam suatu pola saling ketergantungan yang dinamakan ekosistem. Contoh ekosistem dari Kalimantan adalah hutan hujan tropis, hutan mangrove, sungai, lahan basah gambut, dll.
Ekosistem-ekosistem digolongkan ke dalam kategori lebih besar yaitu biom yang umumnya diidentifikasikan dari vegetasi yang mencirikannya. Hutan tropis, gurun, padang rumput, merupakan contoh biom. Biom merupakan unit ekologis terbesar di dalam biosfer. Biosfer itu adalah seluruh lingkungan hidup di planet bumi.
Hutan adalah suatu wilayah luas yang ditumbuhi pepohonan, termasuk juga tanaman kecil lainnya seperti, lumut, semak belukar, dan bunga liar. Ditambah dengan beberapa jenis burung, serangga, dan binatang lainnya yang menghuni hutan tersebut. Berjuta-juta makhluk hidup yang hanya dapat dilihat dibawah microskop juga menghuni hutan.
Ekosistem hutan adalah sangat kompleks, pohon-pohon dan tanaman hijau lainnya membutuhkan sinar matahari untuk memproses makanan yang diambil dari udara, air dan mineral dari dalam tanah. Tanaman memberi makan pada beberapa binatang tertentu. Binatang pemakan tumbuhan ini dimakan oleh binatang pemangsa daging. Tanaman dan binatang yang mati diurai oleh bakteri dan organisme lainnya seperti protosoa dan jamur. Proses ini mengembalikan mineral ke dalam tanah, yang dapat digunakan lagi oleh tumbuhan untuk ber-fotosintesis.
MANFAAT HUTAN
Hutan sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia jaman dahulu mencari makan dengan cara berburu dan mengumpulkan tanaman liar di hutan. Beberapa orang masih tinggal dan hidup di dalam hutan, menjadi bagian alami dari hutan. Meskipun manusia telah membangun pemukiman pedesaan atau perkotaan tetapi masih sering memasuki hutan untuk berburu atau mencari kayu.
Sekarang ini orang lebih memperhatikan hutan dibanding sebelumnya terutama karena faktor : manfaat ekonomi, manfaat bagi lingkungan, dan manfaat hiburan.
1. Manfaat ekonomi
Hutan menghasilkan beberapa produk. Kayu gelondongan dapat diolah menjadi kayu, kayu lapis, bantalan kereta api, papan, kertas. Rotan dapat digunakan untuk furniture. Hutan dapat juga menghasilkan minyak dan berbagai produk lainnya, latex dapat digunakan untuk membuat karet, terpentin, berbagai jenis lemak, getah, minyak, dan lilin. Bagi masyarakat pedalaman binatang dan tanaman hutan menjadi sumber makanan pokok mereka. Tidak seperti sumber alam lainnya misal batubara, minyak, dan tambang mineral, sumber alam yang berasal dari hutan dapat tumbuh kembali, sejauh manusia dapat memperhitungkan pengelolaannya.
2. Manfaat lingkungan
Hutan membantu konservasi dan memperbaiki lingkungan hidup dalam berbagai bentuk. Misalnya hutan membantu menahan air hujan, sehingga mencegah tanah longsor dan banjir, air hujan diserap menjadi air tanah yang muncul menjadi mata air bersih yang mengalir membentuk sungai, danau, dan untuk air sumur.
Tumbuhan hijau membantu memperbaiki lapisan atmosfir menghasilkan oksigen yang sangat diperlukan oleh mahkluk hidup dan mengambil karbon dioksida dari udara. Jika tumbuhan hijau tidak menghasilkan oksigen lagi, maka hampir semua kehidupan akan berhenti. Jika karbon dioksida bertambah banyak di atmosfer hal ini dapat merubah iklim di bumi secara drastis.
Hutan menjadi tempat tinggal beberapa jenis tanaman dan binatang tertentu yang tidak bisa hidup di tempat lainnya. Tanpa hutan berbagai tumbuhan dan hewan langka akan musnah.
3. Manfaat hiburan
Keindahan alam dan kedamaian di dalam hutan dapat menjadi hiburan yang sangat luar biasa dan langka. Mengamati burung atau hewan langka menjadi kegiatan yang sangat menarik. Beberapa hutan dapat dimanfaatkan untuk berkemah, hiking dan berburu. Banyak juga yang hanya menikmati suasana dan bersantai di keheningan yang menyertai keindahan alam.
TIPE – TIPE HUTAN
1. Hutan Mangrove (Payau)
Dipengaruhi oleh pasang surut dengan ciri khas vegetasi mempunyai perakaran pneumathopora (akar gantung, tunjang, napas, lutut). Contoh jenis vegetasinya : Avicennia Spp, Sonneratia Spp, Rhizopora Spp, dan Bruguiera.
2. Hutan Pantai
Terletak bergandengan dengan hutan mangrove atau dapat pula dibelakang hutan mangrove, yang dibedakan kedalam hutan pantai landai dengan ciri khas tanah berpasir, jenis vegetasi Cocos nucifera, Casuarina equisetifolia dan hutan pantai terjal, curam, karang/batu dengan jenis vegetasi Barringstonia spp.
3. Hutan Rawa
Paling banyak ditemukan dipinggiran sungai atau di dataran rendah maupun tinggi yang tergenang air tawar. Jenis vegetasinya banyak dijumpai jenis pandanus, palma, Koompasia sp, Alstonia sp.
4. Hutan Gambut
Termasuk kategori hutan rawa akan tetapi mempunyai tumpukan bahan organic, jenis vegetasinya seperti Gonystillus sp, Melaleuca leucadendron, Durio spp, Dyera sp
5. Hutan Riparian
Hutan yang tumbuh pada sedimen baru dilengkungan sungai dengan jenis pioneer yang tumbuh pertama kali adalah Mimosa spp, rumput kemudian baru hidup Hibiscus, Vernonenum, Bombax spp, Ceiba petandra
6. Hutan Kerangas
Hutan kerangan dibedakan menjadi dua berdasarkan kandungan pasirnya yaitu hutan kerangas moderat dan kerangas Ekstrim. Hutan kerangas moderat hampir seluruh lantai hutan ditutupi lumut miskin jenis pohon tapi kaya epiphit. Hutan kerangas ekstrim mempuyai kandungan pasir tinggi sehingga berupa belukar lebat dan jenis tanaman kantong semar sangat berlimpah.
7. Hutan Hujan Rendah (0-800 m dpl)
Vegetasi selalu hijau, tidak menggugurkan daun secara musiman atau tahunan, dikenal dengan istilah evergreen. vegetasinya didominasi famili dipterocarpaceae.
8. Hutan Dataran Tinggi (800-1200 m dpl)
Jumlah jenis vegetasi cenderung menurun dibanding hutan dataran rendah, mulai terlihat jenis-jenis lumut dan jenis epiphit tumbuh subur.
9. Hutan sub dan Pegunungan (1200 – 2000 m dpl)
Pohonnya berdimensi kecil, pendek dan spot- spot, lumut dan ganggang banyak berlimpah, vegetasi dominant : Querqus, Eugenia dan lithocarpus.
KONDISI HUTAN INDONESIA
Hutan merupakan rumah besar bagi berbagai populasi hewan dan tumbuhan yang berinteraksi secara holistic dalam system ekologi. Hutan Indonesia tercatat memiliki sekitar 27.500 spesies tumbuhan berbunga (10 persen dari seluruh tumbuhan dunia), 1.539 spesies burung (17 persen dari seluruh burung di dunia), 515 spesies satwa mamalia (12 persen dari seluruh spesies reptilia di dunia), dan 270 spesies amfibia (16 persen dari seluruh amfibia di dunia). Hampir seluruh spesies tersebut tidak terdapat di negara lain. Hal ini menunjukkan pentingnya hutan lindung dipertahankan, bukan hanya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bangsa lain.
Meski Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya hutan yang cukup luas. Akan tetapi kekayaan sumber daya hutan tersebut, pada saat ini, mengalami degradasi yang cukup memprihatinkan. Fakta menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, luas areal hutan di Indonesia menurun, dari semula 162 juta hektare menjadi 98 juta hektare. Laju pengurangan luas hutan juga mengalami peningkatan, dari 1 juta hektare per tahun pada sekitar tahun 80-an menjadi sebesar 1,7 juta hektare per tahun pada periode 90-an. Bahkan semenjak tahun 1996, pengurangan luas hutan menjadi sebesar 2 juta hektare per tahun. Angka tersebut telah melebihi taksiran tingkat deforestasi yang dapat diterima, yaitu berkisar antara 0,6 – 1,3 juta hektare per tahun.
Selama decade terakhir ini kejadian kebakaran hutan, penebangan liar dan perburuan satwa telah mengancam kerusakan hutan tropis Indonesia yang berdampak pada hilangnya fungsi ekologi, social dan ekonomi yang diperoleh dari keberadaan hutan.
Hasil studi Greenomics menunjukkan bahwa tingkat keamanan ekologi Pulau Kalimantan berada di bawah standar, mengingat rata-rata tutupan lahan hutan primer terhadap Daerah Aliran Sungai (DAS) di bawah angka minimum 30%. Akibatnya, tidak mengherankan jika wilayah Pulau Kalimantan sering terjadi banjir dan tanah longsor setiap tahunnya. Pada tahun 2004, jika dirata-ratakan pada tingkat pulau, persentase tutupan hutan alam primer Kalimantan terhadap DAS hanya berkisar pada angka 20%. Pada akhir 2006, diperkirakan rata-rata tutupan hutan primer terhadap DAS tersebut terus menurun hingga pada kisaran angka 15%, atau setengah dari kebutuhan angka minimum standar aman ekologi.
Data Departemen Kehutanan per 2004, yang menunjukkan bahwa kawasan lindung tak berhutan di Pulau Kalimantan mencapai 1,8 juta hektar. Bahkan, jika ditotal dengan kawasan hutan produksi yang juga telah tidak berhutan, maka kawasan hutan Pulau Kalimantan yang tidak berhutan mencapai angka 10 juta hektar, atau setara 156 kali lipat luas negara Singapura, kondisi ini jelas sangat memprihatinkan sehingga tidak dapat dipungkiri masyarakat Kalimantan hanya menikmati panen banjir dan tanah longsor setiap tahunnya.
Hilangnya hutan primer Kalimantan seluas 10 juta hektar tersebut jelas akan menyulitkan ekosistem hutan Kalimantan melakukan pengendalian terhadap tanah longsor dan gangguan ekosistem lainnya. Sehingga diperlukan biaya untuk penanggulangan dampak ekologi dengan nilai divestasi modal ekologis dari dua komponen fungsi ekologis hutan Kalimantan tersebut, diperkirakan mencapai angka Rp36,27 triliun per tahun.

Kalau sudah tidak aman secara ekologis, tentu secara bertahap akan menjadi tidak aman secara ekonomi. Eskalasi kondisi tersebut harus dicegah. Praktik pembalakan liar, konversi hutan alam, sistem eksploitasi hutan yang tidak lestari dan perburuan satwa harus segera dihentikan karena bencana ekologi yang datang silih berganti belakangan ini menjadi bukti nyata bahwa daya tahan ekologi hutan Indonesia telah berada di bawah batas, terutama di wilayah Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Jawa.

Kesadaran Peduli Hutan dan Lingkungan harus segera digalakkan dan dibina sehingga tercipta sebuah komitmen untuk menyadari akan sangat pentingnya fungsi hutan dan mendukung upaya pelestarian hutan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: