BAGAIMANA KEBAKARAN HUTAN TERJADI ???

12 10 2009

Oleh : Wahyu Catur Adinugroho

Hutan di Indonesia merupakan sebuah fenomena, hutan sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia telah menempatkan Indonesia dikenal sebagai salah satu negara pemilik hutan tropika terbesar di dunia setelah Brazil dan Zaire. Suatu hal yang patut disyukuri dan bangga sebagai warga bangsa Indonesia, mengingat hutan dapat memberikan manfaat ekonomis sebagai penyumbang devisa bagi kelangsungan pembangunan di Indonesia serta memberikan jasa-jasa lingkungan untuk menopang kehidupan di muka bumi.

Tetapi di lain pihak, hutan yang seharusnya diurus dan dimanfaatkan secara optimal dengan memperhatikan aspek kelestarian telah mengalami degradasi dan deforestasi yang cukup mencengangkan bagi dunia Internasional, ini satu lagi prestasi Indonesia yang bikin hati miris, Indonesia masuk dalam daftar rekor dunia guiness yang dirilis oleh Greenpeace sebagai negara yang mempunyai tingkat laju deforestasi tahunan tercepat di dunia, Sebanyak 72 persen dari hutan asli Indonesia telah musnah dengan 1.8 juta hektar hutan dihancurkan per tahun antara tahun 2000 hingga 2005, sebuah tingkat kehancuran hutan sebesar 2% setiap tahunnya atau 51 km2 per hari atau dalam satu jam luas hutan Indonesia yang hancur setara dengan 300 lapangan sepakbola.  

Disaat upaya untuk menjajaki memulihkan dan mempertahankan kondisi hutan melalui mekanisme jasa hutan sebagai penyerap karbon dilakukan, sebuah prestasi Internasional tercatat kembali bagi bangsa Indonesia karena hutan yang dimiliki. Kebakaran hutan di Indonesia telah menempatkan Indonesia sebagai negara yang termasuk dalam deretan negara penyumbang emisi CO2 terbesar di dunia.

Kebakaran hutan merupakan sebuah tradisi tahunan yang terjadi di Indonesia pada saat musim kemarau dan hal ini merupakan sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Mengapa kebakaran hutan di Indonesia terus tetap terjadi meski trilyunan rupiah telah dihabiskan untuk mengatasi kejadian kebakaran ini baik melalui proyek dalam negeri maupun dari proyek luar negeri. Berdasarkan hal ini, sangat diperlukan memahami bagaimana kebakaran hutan itu terjadi dan faktor apa yang mempengaruhinya sehingga tindakan ataupun strategi yang diambil untuk mencari solusi terhadap permasalahan kebakaran tidak salah sasaran. Berkaitan dengan hal tersebut maka dalam makalah ini diuraikan beberapa teori yang mendasari bagaimana kebakaran hutan itu terjadi seperti segitiga api, proses terjadinya kebakaran hutan dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kebakaran hutan

read more : BAGAIMANA KEBAKARAN HUTAN TERJADI





DAMPAK KEBAKARAN HUTAN TERHADAP FUNGSI HIDROLOGI

12 10 2009

Oleh : Wahyu C. Adinugroho, Efratenta, Ana Tampang, Restu Gusti AB, Surnayanti, Rio Stephanus

Hutan sebagai salah satu penentu ekosistem penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat, cenderung mengalami degradasi, baik kualitas maupun luasannya.  Proses degradasi sumberdaya hutan dalam waktu 20 tahun ini telah menimbulkan dampak yang cukup luas, yang menyentuh aspek lingkungan, ekonomi, kelembagaan, dan juga sosial-politik. Kerusakan telah terjadi di semua kawasan hutan sebagai akibat dari lemahnya penegakan hukum, pembukaan hutan untuk keperluan pembangunan lain (pertambangan, dan industri), perambahan, kebakaran hutan, lemahnya kesadaran dan perhatian terhadap kelestarian ekosistem DAS, serta kurangnya upaya reboisasi yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab oleh pemerintah dan pengguna hutan lainnya.

Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab utama kerusakan hutan Indonesia, tercatat Kebakaran hutan tahun 1997/1998 menyebabkan hilangnya 4,8 juta hektar kawasan hutan dan hampir tiap tahun kejadian kebakaran hutan seluas 0,1 – 0,25 juta Ha terjadi di kawasan hutan Indonesia. Berbagai kajian mengenai dampak kebakaran hutan terhadap berbagai aspek (ekologi, ekonomi, kesehatan, satwa, udara dan pemanasan global) telah dilakukan oleh para peneliti dan lembaga terkait, sebagai penambah wacana akan dampak kebakaran hutan ini maka dalam makalah ini akan sajikan sebuah kajian mengenai dampak kebakaran hutan ditinjau dari segi ekologi khususnya terhadap fungsi hutan terhadap tata kelola air (fungsi hidrologi).

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Hutan dengan penyebarannya yang luas, dengan struktur dan komposisinya yang beragam serta serasah yang terdapat dilantai hutan berasosiasi dengan tanah akan mempengaruhi fungsi hidrologi, sehingga hutan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan fungsi hidrologi. Dampak kebakaran hutan terhadap hidrologi secara langsung merupakan dampak terhadap hilang dan/atau rusaknya vegetasi, menurun dan/atau hilangnya serasah serta  menurunnya kualitas tanah. Kondisi ini akan mepengaruhi proses-proses dalam fungsi hidrologi, yaitu : menurun dan /atau hilangnya daya intersepsi dan infiltrasi sehingga meningkatkan run off yang mengakibatkan terjadinya  banjir, erosi serta penurunan kualitas dan simpanan air tanah. Selain itu akan mengakibatkan menurunnya evapotranspirasi yang berdampak pada menurunnya curah hujan sehinga terjadi penurunan sediaan air tanah.

read more : Dampak kebakaran terhadap fungsi hidrologi





PENEBANGAN LIAR SEBUAH BENCANA BAGI DUNA KEHUTAN INDONESIA YANG TAK KUNJUNG TERSELESAIKAN

6 10 2009

Oleh : Wahyu Catur Adinugroho

Terlepas dari keberhasilan penghasil devisa, peningkatan pendapatan, menyerap tenaga kerja, serta mendorong pembangunan wilayah, pembangunan kehutanan melalui pemanfaatan hutan alam menyisakan sisi yang buram. Sisi negatif tersebut antara lain tingginya laju deforestasi yang menimbulkan kekhawatiran akan tidak tercapainya kelestarian hutan yang diperkuat oleh adanya penebangan liar (Illegal Logging).

Penebangan liar yang telah mencapai jantung-jantung kawasan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi menunjukkan betapa meningkat dan parahnya situasi penebangan liar. Penebangan liar adalah penyebab utama penggundulan hutan di Indonesia yang mencapai tingkat kecepatan 1.6 – 2.0 juta hektar per tahun sehingga Menteri Kehutanan Indonesia telah menempatkan pembasmian aktivitas penebangan liar termasuk perdagangan kayu illegal sebagai agenda utama dalam lima kebijakan utama sektor kehutanan pada masa pemerintahan Presiden

Abdurrahman Wahid yang kemudian kebijakan ini dilanjutkan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pendekatan-pendekatan yang lebih proaktif.

Penebangan liar merupakan sebuah bencana bagi dunia kehutanan  Indonesia yang berdampak luas bagi kondisi lingkungan, politik, ekonomi dan sosial budaya Indonesia. Mengingat hal tersebut, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai definisi dan latar belakang terjadinya illegal logging, siapa aktornya?, bagaimana polanya?, apa dampaknya?, bagaimana proses penegakan hukumnya?, mengapa sulit dihentikan? dan bagaimana upaya penanggulanngannya?. 

 

Dwonload File : Penebangan liar sebuah bencana bagi dunia kehutanan yang tak kunjung terselesaikan





DAMPAK KEBAKARAN TERHADAP PROSES FOTOSINTESIS

6 10 2009

Oleh : Wahyu Catur A, Efratenta, Yeni Maryani, Syuhada, Restu Gusti AB

Fotosintesis merupakan salah satu fungsi fisiologis yang dijalankan oleh vegetasi yang berdaun hijau (autotrof) dimana sebagain besar menyusun suatu tegakan hutan, adanya suatu gangguan terhadap fungsi ini akan berdampak pada terjadinya suatu penyimpangan sehingga dalam kondisi ini dikatakan bahwa vegetasi tersebut tidak sehat dan akan berdampak luas terhadap kondisi kesehatan hutan.

Berbagai macam faktor, baik faktor lingkungan maupun kondisi dari vegetasi itu sendiri akan mempengaruhi berlangsungnya suatu proses fotosintesis. Adanya suatu gangguan fisik atau kimia akan berdampak terhadap terganggunya proses fotosintesis. Kebakaran hutan merupakan gangguan alami yang paling sering terjadi di sebagian besar belahan dunia, baik yang dipicu oleh faktor alami seperi petir dan ledakan gunung berapi, maupun yang disebabkan oleh  ulah manusia. Kebakaran hutan berdampak sangat luas dan berat terhadap aspek-aspek kehidupan, yaitu biofisik, ekonomi dan sosial. Yang termasuk ke dalam katagori biofisik adalah pelepasan asap dan gas CO2, peningkatan suhu, gangguan terhadap kehidupan satwa serta kerusakan vegetasi.

Kerusakan vegetasi akibat kebakaran merupakan dampak yang  paling terasa karena dapat diamati langsung secara kasat mata, baik yang menyebabkan kematian maupun hanya menyebabkan kerusakan pada pohon atau vegetasi lainnya.  Selain menyebabkan kerusakan vegetasi secara fisik, kebakaran hutan juga berdampak pada proses-proses fisiologi vegetasi, yaitu proses fotosintesis. Selain itu gas-gas yang dihasilkan dari proses kebakaran akan mempengaruhi berlangsungnya proses fotosintesis tersebut.

Dari keterkaitan antara proses pembakaran dan proses fotosintesis ini, diketahui bahwa terjadinya kebakaran hutan akan mempengaruhi proses fotosintesis. Dengan terganggunya proses fotosintesis ini maka akan berpengaruh pada metabolisme vegetasi pasca kebakaran dan secara luas terhadap proses-proses lain yang memanfaatkan hasil dari proses fotosintesis. Dimana fotosintesis sering dikatakan sebagai proses kimia satu-satunya  dibumi yang sangat penting berdasarkan beberapa alasan ; makanan manusia dan seluruh binatang (heterotrof) tergantung langsung atau tidak langsung pada tumbuhan (autotrof); stabilitas konsentrasi oksigen dan karbon dioksida atmosfir tergantung pada fotosintesis di lautan dan daratan; selain itu kita mengambil keuntungan dari simpanan energi fotosintesis pada abad geologis masa lalu bila menggunakan gas alam, minyak bumi dan batu bara sebagai sumber bahan bakar. Sebagai tambahan, kita memakai serat kayu (satu diantara sedikit sumber daya alam yang dapat diperbarui) untuk berbagai kebutuhan dan kita tentu saja harus menyadari bahwa fotosintesis merupakan landasan penting untuk kehidupan manusia di bumi.

Berdasarkan uraian tersebut diatas terlihat bahwa fotosintesis merupakan salah satu fungsi fisiologis yang mempunyai peranan penting baik untuk kehidupan vegetasi itu sendiri maupun makhluk hidup lainnya termasuk manusia, sehingga terganggunya proses ini akan berdampak luas terhadap kehidupan makhluk hidup. Untuk menambah wacana dalam memahami hal ini maka dalam makalah ini akan diuraikan beberapa hal dalam kaitannya proses fotosintesis dan dampak yang akan ditimbulkan akibat terganggunya proses fotosintesis………..

download file : Dampak Terganggunya Fotosintesis akibat Kebakaran_





KONSEP TIMBULNYA PENYAKIT TANAMAN

10 09 2009

Oleh : Wahyu Catur Adinugroho

Masalah penyakit tumbuhan akan selalu muncul sepanjang manusia mengusahakan tanaman atau tumbuhan tersebut sebagai tanaman budidaya, dibidang kehutanan khususnya di Indonesia hal ini mulai menjadi bahan pemikiran disaat mulai diusahakannya jenis-jenis tanaman hutan secara monokultur, seperti jati, agathis, pinus, mahoni, sengon, acacia, eucalyptus. Kondisi ini semakin menjadi persoalan  jika kerusakan-kerusakan yang terjadi menimbulkan kerugian ekonomi. Kerugian ekonomi dalam jumlah yang besar akibat keruaskan yang disebabkan oleh penyakit secara umum jarang terjadi meskipun pernah ada, dan sebenarnya kerusakan hutan yang menimbulkan kerugian ekonomi dalam jumlah yang besar adalah akibat dari ulah manusia, yaitu seperti terjadinya kebakaran dan penebangan liar. Meskipun demikian kejadian suatu penyakit adalah salah satu proses yang terjadi di alam, sehingga sangat perlu menjadi  bahan pemikiran pada saat mengembangkan suatu tanaman dimana manusia berperan didalamnya.

Dan kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana tanaman itu menjadi sakit? Hal inilah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu konsep bagaiamana tanaman dapat menjadi sakit.

Download File : Konsep timbulnya penyakit





HUBUNGAN ANTAR FAKTOR PENGGANGGU (Kebakaran – Penyakit Tumbuhan) PENYEBAB KERUSAKAN HUTAN

10 09 2009

Oleh : Wahyu Catur Adinugroho

Kegiatan perlindungan hutan merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan hutan yang mempunyai prinsip :

  1. Mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, bencana alam, hama serta penyakit.
  2. Mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.

Kerusakan pohon atau tegakan pohon di dalam hutan atau kawasan hutan dapat disebabkan oleh beberapa faktor pengganggu, diantaranya adalah kebakaran, hama, penyakit dan penggembalaan. Antar faktor penyebab gangguan hutan ini memiliki hubungan sebab akibat, faktor gangguan penggembalaan akan memberikan pengaruh terhadap munculnya faktor gangguan kebakaran, begitupun dengan faktor-faktor gangguan yang lain.

Salah satu hubungan antar faktor gangguan kerusakan hutan ini akan dibahas dalam makalah ini, yaitu faktor gangguan kebakaran akan memberikan pengaruh terhadap timbulnya faktor gangguan penyakit tumbuhan…..

Download File : interaksi kebakaran dan penyakit





PERSEPSI MENGENAI TANAMAN SEHAT

10 09 2009

Oleh : Wahyu Catur Adinugroho

Salah satu faktor yang mendukung dihasilkannya tanaman yang sehat adalah bibit yang ditanam adalah berasal dari bibit yang sehat. Bibit yang sehat ini berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-5006.1-2006 tentang Mutu bibit, merupakan bibit segar yang tidak terserang hama dan atau penyakit dan atau tidak ada gejala kekurangan unsur hara. Teknik memperoleh bibit sehat ini dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain, kultur jaringan, perlakuan terhadap benih secara kimiawi dan perlakuaan terhadap benih dengan mikroorganisme. Beberapa  mikroorganisme yang dapat digunakan berdasarkan hasil penelitian antara lain Fusarium oxysporum non patogenik (F.o.NP), Bacillus, Pseudomonas flourescens. Di beberapa Negara maju seperti Jepang, Jerman, Cina dan AS telah menggunakan Fo.NP untuk memproduksi bibit sehat dan toleran terhadap patogen tertentu. Di Indonesia telah digunakan secara luas untuk memproduksi bibit vanili sehat (vanili Bio-FOB) yang bebas dan toleran terhadap penyakit busuk batang vanili. Dan sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah tanaman sehat itu selamanya tidak akan terserang hama atau bahkan akan mengundang hama karena belum pernah terserang hama? Hal inilah yang akan dibahas dalam makalah ini……….

Download File : PERSEPSI TANAMAN SEHAT





Status Perlindungan Hutan dalam Perspektif Perundangan di Indonesia

10 09 2009

Oleh :

Wahyu Catur Adinugroho

Pemerintah Indonesia telah membuat seperangkat peraturan sebagai dasar hukum, prosedur dan penyelenggaran perlindungan hutan di Indonesia. Adapun peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kegiatan perlindungan hutan di Indonesia adalah :

-          Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990

-          Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992

-          Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992

-          Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999

-          Peraturan Pemerintah RI Nomor 45 Tahun 2004

Peraturan-peraturan ini akan dibahas dalam makalah ini mengenai status, isi dan urgensinya dengan kegiatan perlindungan hutan………..

Selengkapnya dapat di download : STATUS PERLINDUNGAN HUTAN dalam perspektif peraturan perundangan di Indonesia





KARAKTERISTIK HABITAT DAN EKOLOGI POHON PENGHASIL KULIT KAYU GEMOR

10 02 2009

Wahyu Catur Adinugroho, S.Hut

 

RINGKASAN PENELITIAN       :

 

A.   Latar Belakang

Salah satu hasil hutan non kayu yang dihasilkan hutan rawa gambut adalah kulit kayu gemor. Kulit kayu gemor ini dimanfaatkan sabagai salah satu bahan dasar obat nyamuk. Pengumpulan kulit kayu gemor hingga tahun 1998an merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat sekitar hutan rawa gambut. Dampak pengumpulan yang berlebihan dan teknik pengumpulan dengan cara menebang pohon gemor berakibat terganggunya kelestarian pohon gemor sehingga saat ini sulit untuk menemukan pohon gemor terlebih pohon gemor yang berdiameter besar. Berdasarkan kondisi ini sangat perlu untuk membudidayakan pohon gemor guna menjaga kelesatariannya dan mempunyai nilai ekonomis. Untuk kegiatan budidaya, diperlukan informasi karakteristik dari pohon tersebut sehingga tidak salah jenis yang ditanam serta informasi kondisi habitat dan ekologi dari pohon tersebut sehingga pohon tersebut dapat tumbuh dengan baik karena ditanam pada kondisi ekologi dan habitat yang sesuai.

 

B.    Tujuan

Penelitian Karakteristik Habitat dan Ekologi Pohon Penghasil Kulit Kayu Gemor dilakukan untuk memberikan kontribusi dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan kesuaian habitat dan ekologi yang menjadi persayaratan tumbuh dari pohon penghasil kulit kayu gemor yang ingin dikembangkan.

 

C.    Metode Penelitian

Untuk mencapai tujuan tersebut diatas maka dilakukan pengumpulan data dengan bantuan berbagai alat seperti clinometer, hygrometer, termometer, kompas, GPS, pita ukur, dll,  meliputi data penunjang maupun data utama. Data utama diperoleh melalui pengamatan langsung terhadap aspek habitat dan ekologi pada plot penelitian sebagai cuplikan di lapangan. Selanjutnya data-data tersebut dilakukan analisa untuk mengetahui deskripsi botani pohon penghasil kulit kayu gemor, kondisi vegetasi (komposisi, dominasi, asosiasi dan keanekaragaman) dan kondisi lingkungan (suhu, kelembaban, curah hujan, tanah) serta kandungan kimia dari bagian pohon gemor.

 

D.   Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan di Dsn Jengan dan Ds. Long Daliq, Kab. Kutai Barat Kalimantan Timur dan Dsn. Tuanan, Kab. Kapuas Kalimantan Tengah yang menjadi habitat pohon gemor.

 

Read more : ringkasan-gemor





PENDUGAAN CADANGAN KARBON (C-stock)

3 02 2009

PENDUGAAN CADANGAN KARBON (C-stock)

DALAM RANGKA PEMANFAATAN FUNGSI HUTAN

SEBAGAI PENYERAP KARBON

(Ringkasan)

 

(download File Lengkap : carbon-stock-in-secondary-forest)

 

karbon

 

Oleh

Wahyu Catur Adinugroho

Ismed Syahbani

Mardi T. Rengku

Zainal Arifin

Mukhaidil

 

 

PENDAHULUAN

 

            Disaat hutan alam tak ada lagi yang dapat dieksploitasi karena kayunya telah habis dieksploitasi secara berlebihan, baik secara legal maupun ilegal dan hutan tanaman yang diharapkan mampu mendukung ketersedian bahan baku kayu belum menunjukkan hasil yang menggembirakan, akankah era kekemilauan sektor kehutanan sebagai sumber devisa andalan Indonesia telah berakhir? Kini Indonesia harus mampu melihat hutan tropisnya dengan paradigma yang berbeda, hutan tidak lagi identik dengan kayu, apalagi hutan tropis yang sifatnya ringkih. Hutan dapat memberikan jasa dalam bentuk yang lain seperti fungsi hidrologi, fungsi ekologi, fungsi sosial dan budaya serta saat ini diketahui bahwa hutan berperan besar dalam upaya melindungi atmosfer bumi. Manfaat intangible hutan ini kadang sering diabaikan karena dianggap tidak dapat memberikan nilai ekonomis yang dapat dirupiahkan.

            Dengan adanya inisiatif global seperti Kyoto Protocol, kini kita ditantang untuk melihat hutan dengan sudut pandang lain lagi. Para rimbawan, masyarakat dan praktisi lainnya yang berkaitan dengan keberadaan hutan perlu untuk mempraktekkan pengetahuan dan keahliannya pada spektrum yang lebih luas lagi, lingkungan global. Hutan bukan sekedar tumpukan kayu yang dapat mendatangkan devisa sesaat yang sering juga menimbulkan bencana jika dimanfaatkan tanpa kendali tetapi merupakan komoditi global yang memiliki potensi selain kayu. Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) termasuk jasa yang dihasilkan harus dikembangkan dalam pemanfaatannya untuk mengembalikan era kekemilauan sektor kehutanan dalam mendukung devisa negara.

            Berkaitan dengan kemampuan hutan dalam menyerap karbon, perdagangan emisi atau perdagangan karbon merupakan sebuah paradigma baru dalam sektor kehutanan dan dapat menjadi peluang bagi  Indonesia yang notabene merupakan negara berkembang untuk mendapatkan devisa melalui sektor ini.  Melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism, CDM) inilah negara berkembang seperti Indonesia dapat berpartisipasi dalam rangka perdagangan karbon. Dalam sektor kehutanan, kegiatan yang tergolong dalam mekanisme ini adalah Aforestasi dan Reforestasi. Aforestasi merupakan kegiatan penanaman hutan kembali pada lahan yang sudah tidak berhutan 50 tahun yang lalu sedang reforestasi adalah penanaman hutan kembali pada lahan yang tidak berupa hutan sebelum tahun 1990. Meskipun kegiatan konservasi dan rehabilitasi tidak masuk dalam mekanisme CDM namun kegiatan tersebut masuk dalam kategori kegiatan adaptasi terhadap perubahan iklim dengan mekanisme yang diatur oleh Konvensi Perubahan Iklim sehingga kegiatan inipun berpotensi untuk mendapatkan pembiayaan.

             Perdagangan karbon adalah paradigma baru sehingga kita perlu banyak persiapan, kesiapan ini juga menyangkut teknik dan penilaian informasi kandungan karbon yang dimiliki. Dalam makalah ini disampaikan bagaimana menduga cadangan karbon sehingga menghasilkan informasi C-stock dalam Hutan yang terdiri dari enam karbon pool (above ground, below ground, understorey, litter, nekromash dan soil) dengan mengambil studi kasus di Hutan Sekunder bekas kebakaran di PT. Inhutani I Batuampar, Kalimantan Timur.

 

PERANAN HUTAN SEBAGAI PENYERAP KARBON

 

            Peranan Hutan sebagai penyerap karbon mulai menjadi sorotan pada saat bumi dihadapkan pada persoalan efek rumah kaca, berupa kecenderungan peningkatan suhu udara atau biasa disebut sebagai pemanasan global. Penyebab terjadinya pemanasan global ini adalah adanya peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer dimana peningkatan ini menyebabkan kesetimbangan radiasi berubah dan suhu bumi menjadi lebih panas.

            Gas Rumah Kaca adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang yang dipancarkan kembali ke atmosfer oleh permukaan bumi. Sifat termal radiasi inilah menyebabkan pemanasan atmosfer secara global (global warming). Di antara GRK penting yang diperhitungkan dalam pemanasan global adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O). Dengan kontribusinya yang lebih dari 55% terhadap pemanasan global, CO2 yang diemisikan dari aktivitas manusia (anthropogenic) mendapat perhatian yang lebih besar. Tanpa adanya GRK, atmosfer bumi akan memiliki suhu 30oC lebih dingin dari kondisi saat ini. Namun demikian seperti diuraikan diatas, peningkatan konsentrasi GRK saat ini berada pada laju yang mengkhawatirkan sehingga emisi GRK harus segera dikendalikan. Upaya mengatasi (mitigasi) pemanasan global dapat dilakukan dengan cara mengurangi emisi dari sumbernya atau meningkatkan kemampuan penyerapan.

            Hutan berperan dalam upaya peningkatan penyerapan CO2 dimana dengan bantuan cahaya matahari dan air dari tanah, vegetasi yang berklorofil mampu menyerap CO2 dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis ini antara lain disimpan dalam bentuk biomassa yang menjadikan vegetasi tumbuh menjadi makin besar atau makin tinggi. Pertumbuhan ini akan berlangsung terus sampai vegetasi tersebut secara fisiologis berhenti tumbuh atau dipanen. Secara umum hutan dengan ”net growth” (terutama dari pohon-pohon yang sedang berada fase pertumbuhan) mampu menyerap lebih banyak CO2, sedangkan hutan dewasa dengan pertumbuhan yang kecil hanya menyimpan stock karbon tetapi tidak dapat menyerap CO2 berlebih/ekstra (Kyrklund, 1990). Dengan adanya hutan yang lestari maka jumlah karbon (C) yang disimpan akan semakin banyak dan semakin lama. Oleh karena itu, kegiatan penanaman vegetasi pada lahan yang kosong atau merehabilitasi hutan yang rusak akan membantu menyerap kelebihan CO2 di atmosfer.

 

PARADIGMA PERDAGANGAN KARBON

 

            Negara-negara industri yang sudah lebih lama dan banyak mengemisikan GRK mempunyai tanggungjawab menurunkan emisi GRK. Kewajiban ini disepakati dalam Konvensi Perubahan Iklim, yaitu sebuah perjanjian internasional yang bertujuan untuk menstabilkan emisi GRK ke atmosfer sehingga tidak membahayakan sistem iklim bumi. Untuk mengimplementasikan konvensi ini, masyarakat internasional telah menyepakati sebuah target, tentang besar dan jadwal penurunan emisi yang tertuang dalam Protokol Kyoto. Protokol ini juga mengatur tatacara penurunan emisi termasuk kegiatan yang dilakukan di negara lain yang dikenal dengan nama Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism, CDM). Melalui mekanisme CDM inilah negara berkembang seperti Indonesia dapat menjual karbon yang mampu diserap dan disimpan oleh hutan yang dimiliki ke negara maju (sink program). Indonesia sangat berpotensi menjadi negara penyerap emisi karbon karena Indonesia mempunyai hutan tropis yang luas bahkan potensi tersebut dapat lebih ditingkatkan dengan upaya penanaman dan rehabilitasi hutan yang telah rusak yang tersebar luas. Dalam sektor kehutanan, kegiatan yang tergolong dalam CDM adalah aforestasi dan reforestasi. Meskipun kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan tidak dapat dikategorikan sebagai kegiatan mitigasi yang absah dibawah prosedur CDM. Namun kegiatan tersebut dapat dikategorikan sebagai kegiatan adaptasi terhadap perubahan iklim dengan mekanisme yang tidak diatur oleh CDM, tetapi oleh Konvensi Perubahan Iklim yang memungkinkan juga mendapatkan pembiayaan. Selain CDM beberapa alternatif potensi pasar karbon lain juga tersedia, yaitu melalui pasar non kyoto dengan persyaratan dan kriteria lain, seperti pasar Amerika, bio-carbon fund, bilateral, multilateral dan unilateral donor.

 

CONTOH KASUS PENDUGAAN C-stock HUTAN

 

            Dalam rangka pemanfaatan fungsi hutan sebagai penyerap karbon melalui sebuah kerangka carbon trade sangat diperlukan upaya mengkuantifikasi berapa besar karbon yang dapat diserap dan disimpan (C-stock) oleh hutan. Sebagai contoh kasus upaya mengkuantifikasi berapa besar karbon yang dapat diserap dan disimpan oleh Hutan akan diuraikan Pendugaan C-stock Hutan Sekunder Bekas Kebakaran 1997/1998 di PT. Inhutani I Batuampar, Kalimantan Timur.   Pendugaan C-stock Hutan Sekunder ini dapat dijadikan baseline (penentuan garis awal) atau kondisi awal cadangan karbon sebelum proyek dimulai. C-stock Hutan terdiri dari enam karbon pool, yaitu above ground (batang, cabang, daun), below ground (akar), tumbuhan bawah, serasah, nekromash dan tanah.

            Dalam rangka pendugaan C-stock ini dapat digunakan pendekatan biomassa dimana 40%-50% dari biomassa tersebut adalah karbon (Brown, 1997). Secara rinci metode yang digunakan dalam menduga C-stock berbagai komponen dalam hutan dapat diuraikan sebagai berikut :

Pada tahap pertama dilakukan pembuatan plot ukuran 20mx20m sebanyak 3 ulangan (Gbr. 2), didalamnya dibuat sub plot dengan ukuran 5mx5m dan 1m x 1m masing – masing sebanyak 5 ulangan (Gbr. 1). Pada penelitian ini plot I terletak pada koordinat 01o00’43” LS, 116o51’25,5” BT, plot II terletak pada koordinat 01o00’44,4” LS, 116o51’23,2” BT dan plot III terletak pada koordinat 01o00’47,2” LS, 116o51’23,2” BT. Selanjutnya dilakukan pengambilan data primer dengan melakukan sensus di seluruh plot meliputi identifikasi jenis tumbuhan bawah, pancang dan pohon serta pengukuran diameter batang.

Guna mendapatkan sebaran diameter, maka pada plot 20mx20m dilakukan sensus pengukuran diameter batang pohon (D>10cm) sedangkan pada sub plot 5mx5m dilakukan sensus pengukuran diameter batang untuk pancang (D<10cm). Pada sub plot 1m x 1m dilakukan pengamatan vegetasi bawah, nekromash, ceraza dan tanah.

Setelah mendapatkan gambaran komposisi vegetasi dan sebaran diameter maka dipilih 63 pohon contoh secara purposif yang diharapkan dapat mewakili ketersebaran diameter dan jenis yang ada di lokasi. Kemudian dilakukan pengukuran diameter pohon setinggi dada (1,3 m di atas permukaan tanah) dengan menggunakan pita ukur dan tinggi pohon pada saat  pohon berdiri. Selanjutnya dilakukan penghitungan biomassa dengan menggunakan metode destructive sampling, yaitu melakukan penebangan kemudian penimbangan berat basah secara langsung pada tiap bagian komponen vegetasi (daun, cabang, batang dan akar) dan mengkonversinya menjadi berat kering (biomassa) menggunakan berat kering tiap contoh bagian vegetasi pada tiap pohon contoh. Contoh daun diambil sebanyak ±100 gr sedangkan contoh bagian cabang, batang dan akar jika memungkinkan diambil contoh dengan ukuran ± 2 cm x 2 cm x 2 cm pada bagian pangkal, tengah dan ujung. Biomassa yang diperoleh dari pohon contoh ini selanjutnya dikembangkan untuk menyusun persamaan alometrik. Persamaan alometrik yang diperoleh nantinya dapat digunakan untuk menghitung biomassa suatu tegakan hutan sekunder.

Adapun tahapan-tahapan yang dapat dilakukan adalah melakukan pembersihan areal di sekitar pohon contoh dan penebangan. Selanjutnya dilakukan pemisahan bagian-bagian pohon (daun, cabang, batang dan akar).

-          Daun

Guna Penghitungan biomassa daun pohon contoh maka pada setiap pohon contoh yang telah ditebang dikumpulkan keseluruhan daun tersebut kemudian dilakukan penimbangan berat basah, selanjutnya diambil sampel sebanyak ±100 gr untuk penghitungan berat kering.

 

-          Cabang

Pada setiap pohon contoh dipisahkan bagian cabang dari batang utama, dikumpulkan kemudian ditimbang berat basahnya. Setelah dilakukan penimbangan berat basah, diambil contoh pada bagian pangkal, tengah dan ujung cabang pada seluruh contoh guna penghitungan berat kering di laboratorium.

 

-          Batang

Pada setiap batang utama dipotong-potong untuk memudahkan penimbangan berat basah serta dipisahkan batang utama bebas cabang dan setelah cabang. Setelah dilakukan penimbangan berat basah keseluruhan batang utama, diambil contoh batang pada bagian pangkal, tengah dan ujung cabang untuk penghitungan berta kering di laboratorium.

 -          Akar

Untuk memudahkan pengambilan akar maka sebelum pohon ditebang dilakukan penggalian akar-akar yang besar  sehingga saat pohon rebah akar akan terangkat. Setelah itu keseluruhan akar dikumpulkan kemudian dilakukan penimbangan berat basah. Untuk penghitungan berat kering yang dilakukan di laboratorium maka diambil sampel pada bagian pangkal, tengah dan ujung akar.

 

Pada petak 1m x 1m (15 petak) dilakukan pembabatan tumbuhan bawah kemudian dikumpulkan  dan ditimbang berat basahnya  Begitupun juga dengan serasah, serasah yang terdapat dalam petak 1m x 1m (15 petak) dikumpulkan dan ditimbang berat basahnya kemudian diambil contoh sebanyak ± 100 gr untuk pengukuran berat kering contoh.

Nekromash merupakan kayu-kayu yang telah lapuk, nekromash ini juga merupakan salah satu komponen didalam hutan yang mempunyai potensi sebagai penyimpan karbon. Untuk pengambilan sample nekromash dilakukan pada petak ukur 2 x 2m pada tiap plot sebanyak 5 ulangan. Keseluruhan nekromash yang terdapat dalam petak ukur dikumpulkan kemudian ditimbang berat basahnya, setelah itu diambil sampel sebanyak kurang lebih ±100 gr untuk penghitungan berat kering di laboratorium.

 

 

Untuk perhitungan karbon tanah diambil contoh tanah pada tiap plot sebanyak 4 ulangan pada 5 tingkat kedalaman, yaitu : 0-5 cm, 5-10 cm, 10-20 cm, 20-30 cm, 30-50 cm. Dimana pada tiap contoh tanah ini dilakukan pengukuran berat tanah, volume dan kandungan karbon tanah.

 

Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa komposisi vegetasi di lokasi dicirikan oleh 69 jenis vegetasi, 61 marga dan 37 suku pada berbagai tingkat yaitu tumbuhan bawah, Semai, Pancang dan Pohon. Beberapa jenis tumbuhan ini menjadi ciri khas hutan sekunder yaitu sebagai tumbuhan pioner seperti jenis Macaranga sp., Mallotus sp., Trema sp., Melastoma sp. dan Leea sp. Beberapa jenis pioner ini juga dijumpai dalam penelitian komposisi dan struktur vegetasi hutan bekas terbakar di Wanariset Samboja Kalimantan Timur oleh Saridan dan Tangketasik (1987). Struktur vegetasi pada lokasi ini merupakan vegetasi muda dengan diameter kecil dimana secara umum semakin besar diameter suatu vegetasi jumlahnya akan semakin menurun seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah pohon Pada Tiap Kelas Diameter di Plot Penelitian

Persamaan alometrik ini digunakan untuk menduga biomassa total vegetasi tingkat pancang dan pohon atau vegetasi dengan kriteria tinggi > 1,5 m. Persamaan alometrik penduga biomassa di lokasi ini disusun dari 63 vegetasi contoh tingkat pancang dan pohon  berdasarkan adanya hubungan peubah dimensi pohon (diameter dan Biomassa). Dari hasil analisa pemilihan model terbaik, pada lokasi ini dihasilkan persamaan alometrik biomassa terpilih seperti terlihat pada Tabel 2.

Plot

Kelas Diameter (cm)

<2

2-

<4

4-

<6

6-

<8

8-

<10

10-

<12

12-

<14

14-

<16

16-

<18

20-

<22

24-

<26

>30

I

38

30

10

3

5

9

6

2

 

1

 

 

II

45

39

12

1

1

1

3

1

1

2

1

1

III

31

31

14

 

2

5

2

2

 

1

 

 

Jumlah (Ind)

114

100

36

4

8

15

11

5

1

4

1

1

Kerapatan

(Ind/ha)

3040

2667

960

107

213

125

92

42

8

33

8

8

 

 

 

Tabel 2. Persamaan Biomassa Terpilih

 

Biomassa

Persamaan Alometrik

R-sq

s

PRESS

Biomassa Daun

Bdaun = 0.0263027D1.79

65.5%

0.3978

10.2397

Biomassa Cabang

Bcab = 0.0165959D2.44

83.0%

0.3392

7.37279

Biomassa Batang

Bbtg = 0.0977237D2.20

94.9%

0.1557

1.57058

Biomassa Akar

Bakar = 0.0457088D1.98

86.7%

0.2372

3.65184

Biomassa Total

Btot = 0.199986D2.14

93.4%

0.1741

1.95678

Keterangan : D (diameter setinggi dada), Bdaun (biomassa daun), Bcab (biomassa cabang)                       Bbtg (biomassa batang), Bakar (biomassa akar), Btot (biomassa total).

           

Dari Tabel 2. menunjukkan bahwa persamaan alometrik yang dihasilkan untuk menduga biomassa tiap bagian pohon merupakan bentuk power function (Y=aDb) dimana Y= biomassa, D=diameter yang diukur setinggi dada, a dan b=konstanta. Bentuk persamaan ini juga telah digunakan oleh Brown untuk menduga biomassa pohon di hutan alam primer daerah kering, lembab dan basah (Brown, 1997). Dari perbandingan persamaan biomassa total hasil penelitian dengan persamaan Brown pada daerah lembab dan basah (B = 0.118D2.53 dan B = 0.092D2.60) dengan menggunakan uji t setelah ditransformasi kedalam persamaan linear didapatkan bahwa persamaan biomassa total dalam penelitian dan persamaan Brown mempunyai nilai intersep dan slope yang berbeda nyata. Nilai slope garis persamaan regresi pada persamaan yang dihasilkan untuk menduga kandungan biomassa pada hutan sekunder bekas kebakaran lebih kecil dibandingkan persamaan Brown (1997) di hutan alam primer.  Hal ini menunjukkan bahwa pendugaan biomassa hutan sekunder akan menghasilkan biomassa yang lebih kecil dibandingkan hutan alam primer terutama pada vegetasi berdiameter besar. Kecilnya biomassa pada hutan sekunder karena diakibatkan kebakaran dan pembalakan sehingga menyebabkan sebagian biomassa hilang.

Kandungan Karbon (C-stock) dihitung dengan menggunakan pendekatan biomassa dengan asumsi 50 % dari biomassa adalah karbon yang tersimpan. Diperoleh hasil bahwa C-stock hutan sekunder dari berbagai karbon pool seperti terlihat pada Tabel 3.

Tabel 3. C-stock Hutan Sekunder Bekas Kebakaran 1997/1998 di PT. Inhutani I Batuampar, Kalimantan Timur.

Karbon pool

Total Biomassa

(Ton/Ha)

C-org

(%)

Total C-stock

(Ton/Ha)

- Pohon

Bagian atas

Daun

Cabang

Batang

Bagian bawah

Akar

36.82632

30.69506

2.35312

6.6469

21.69504

6.13126

6.13126

50 (est)

50 (est)

50 (est)

50 (est)

50 (est)

50 (est)

50 (est)

18.41316

15.34753

1.17656

3.32345

10.84752

3.06563

3.06563

Tumbuhan bawah

2.423879

50 (est)

1.21194

Serasah

3.768549

50 (est)

1.870885

Nekromash

22.63489

50 (est)

11.31744

Soil

0-5 cm (BD=1.106 gr/cm3)

5-10 cm (BD=1.252 gr/cm3)

10-20 cm (BD=1.286 gr/cm3)

20-30 cm (BD=1.331 gr/cm3)

30-50 cm (BD=1.345 gr/cm3)

 

 

2.450

1.212

0.833

0.667

0.593

56.728

13.524

7.569

10.694

8.921

16.020

TOTAL

 

 

89.541425

 

dari Tabel 3 dalam kaitannya dengan karbon yang tersimpan pada komponen pohon, dapat dilihat bahwa kandungan karbon terbesar terdapat pada bagian batang yaitu sebesar 10.84752  ton/ha (58.91%). Hal ini karena sebagian besar hasil fotosintesis disimpan pada bagian batang untuk pertumbuhan baik horisontal maupun vertikal. Total kandungan karbon vegetasi hutan sekunder pada tingkat pancang dan pohon di lokasi penelitian sebesar 18.41316 ton/ha. Nilai dugaan ini lebih kecil dibandingkan karbon stock yang terdapat pada Hutan Primer di Kalimantan Timur, dimana sebuah penelitian di hutan primer di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa total biomassa tegakan hutan primer sekitar 492 ton/ha (Ruhiyat, 1995) dengan asumsi 50% biomassa adalah C-stock maka C-stock pada hutan primer di Kalimantan Timur tersebut adalah 246 ton/ha. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian kebakaran telah menyebabkan banyak karbon terlepas dan berpotensi meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfer.

Total C-stock pada Hutan Sekunder bekas kebakaran dan pembalakan pada plot penelitian ini sebesar 89.541425 Ton/ha. Komponen C-stock pada nekromash di lokasi ini mempunyai nilai yang cukup besar hal ini dikarenakan lokasinya merupakan areal bekas kebakaran dan pembalakan sehingga banyak ditemukan batang, cabang dan tunggak pohon yang telah mati dan mengalami proses pelapukan. Persentase C-stock pada berbagai komponen hutan sekunder dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar.

 

grafik

 

PENUTUP

 

            Perdagangan Karbon merupakan sebuah paradigma baru dalam upaya pemanfaatan hutan selain kayu dimana hutan mempunyai jasa lingkungan sebagai penyerap karbon. Dalam rangka pemasaran jasa lingkungan ini perlu dilakukan kuantifikasi besar karbon yang mampu diserap dan disimpan (C-stock) oleh Hutan. Pada Hutan Sekunder bekas Kebakaran 1997/1998 di PT. Inhutani I Batuampar, diperoleh nilai C-stock pada berbagai komponen karbon pool sebesar 89.541425 Ton/ha. Selain informasi kandungan karbon tersebut dihasilkan juga persamaan alometrik yang dapat digunakan untuk menduga Biomassa pohon, yaitu Biomassa daun (Bdaun)= 0.0263027D1.79 , Biomassa cabang (Bcab)= 0.0165959D2.44, Biomassa batang (Bbtg)= 0.0977237D2.20, Biomassa akar(Bakar)= 0.0457088D1.98, Biomassa total : (Btot)= 0.199986D2.14 dimana D adalah diameter setinggi dada.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Brown, S. 1997. Estimating Biomass and Biomass Change of Tropical Forest. A Primer. FAO. Forestry Paper No. 134. F AO, USA

IPCC National Greenhouse Gas Inventories Programme. 2003. Good Practicece Guidance for Land Use, Land Use Change and Forestry. Technical Support Unit IPCC National Greenhouse Gas Inventories Programme, Institute for Global Environmental Strategies. Hayama.

Kyrklund, B. 1990. The Potential of Forests and Forest Industry in Reducing Excess Atmospheric Carbon Dioxide. Unasylva 163. Vol 41. FAO

Ruhiyat, D. 1995. Estimasi Biomassa Tegakan Hutan Tropis di Kalimantan Timur. Lokakarya Inventarisasi Emisi dan Rosot Gas Rumah Kaca. Bogor 4-5 Agustus 1995

Saridan, A & Tangketasik, J. 1987. Komposisi dan Struktur Vegetasi Hutan Bekas Terbakar dan Tidak Terbakar di Wanariset Samboja. Jurnal Penelitian Hutan Tropika Samarinda, Wanatrop Volume 2 No 2. Balai Penelitian Kehutanan Samarinda.